Minggu, 24 Desember 2017

MENGHINDARI AKHLAK TERCELA


PENGERTIAN, AKIBAT, LARANGAN, DAN CARA MENANGGULANGI SIFAT MARAH 

1. Pengertian marah
Pernahkah kalian melihat orang yang sedang marah? Bagaimana wajahnya, ungkapan apa yang terdengar dari lisannya dan apa yang dilakukan? Marah atau ghadab adalah luapan perasaan seseorang yang tidak senang karena sesuatu. Mungkin karena dihina sehingga tersinggung karena dibohongi seseorang atau karena keinginan tidak tercapai dan sebab lainnya. Marah merupakan bentuk akhlak tercela sehingga harus hindari. Marah termasuk perbuatan setan yang tidak boleh diikuti. Orang yang pemarah akan mudah tersinggung dan mudah melakukan hal-hal yang buruk karena tidak dapat mengendalikan diri. Seorang yang sedang marah dapat diketahui melalui tanda-tanda atau ciri yang tampak, antara lain:
a)      Muka dan matanya tampak merah.
b)      Mulutnya berdesir.
c)      Tangannya gemetar.
d)      Mengeluarkan kata-kata kotor.
e)   Melakukan sesuatu yang merugikan, seperti: memukul, melempar, membanting dan sejenisnya
Sebaiknya kalian harus berlatih tidak marah. Bagaimana caranya? Ya, tentu bersabar dan berlatih mengendalikan diri. Ketika kalian hendak marah dalam keadaan berdiri silakan kalian duduk. Ketika sedang berhadapan dengan seseorang yang kalian marahi segera tinggalkan orang tersebut. Lebih bagus lagi adalah ketika terasa mau marah segera mengambil air wudu dan segera melakukan salat. Karena sifat marah seperti bara api dan api akan lenyap dengan air. Nabi bersabda; 
Artinya: Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan diciptakan dari api dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah hendaknya dia berwudu (HR. Ahmad).    

2. Larangan marah 
Perbuatan marah adalah perbuatan setan. Dan setan adalah makhluk yang terkutuk. Karena itu jangan sekali-kali mengikuti perbuatan setan. Karena sekali mengikuti perbuatan setan akan menjadi teman setan dan menjadi makhluk terkutuk oleh Allah Swt. Karena itu jauhi dan hindari sifat marah, berlatihlah menjadi seorang yang sabar, sebagaimana firman Allah Swt. 
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan keji dan mungkar .... (Q.S. An-Nur [24]: 21). 
Ajaran Islam melarang seseorang berbuat marah. Marah tidak pernah ada manfaat sedikitpun. Bahkan marah hanya akan menyisakan segudang kerugian. Karena itu jauhi dan tinggalkanlah. Sebagaimana Nabi Saw bersabda; 
Artinya: Ketahuilah bahwasanya marah adalah kobaran api yang tersembunyi dalam hati anak Adam. Tidaklah kalian lihat kemerah-merahan matanya dan kegembungan urat lehernya ? Karenanya siapa saja yang merasakan hal ini (marah) hendaklah ia membenam ke bumi (HR.Turmudzi). 

3. Akibat marah 
Pernah kalian melihat dari akibat sikap seseorang yang marah? Tentu, tidak ada sedikitpun yang bermanfaat. Diantara akibat dari sikap marah adalah:
a)    Menanamkan permusuhan.
b)    Hancurnya sesuatu.
c)    Munculnya kata-kata kotor yang menyakitkan.
d)    Membuat orang lain tidak menyukai.
e)    Dimurkai oleh Swt.
f)    Cara menanggulangi marah 
Ada empat cara mengatasi sikap marah dan ini semua perlu untuk dicoba sehingga menjadi kebiasaan, yaitu:
a)    Segera memohon pertolongan kepada Allah Swt. dengan membaca ta’awudz. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw. bersabda:

Artinya: Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang (HR. Bukhari dan Muslim).
b)    Diam dan menjaga lisan

Artinya: Jika kalian marah, diamlah (HR. Ahmad),
c)    Mengambil posisi lebih rendah
Dari Abu Dzar Ra, Rasulullah Saw. bersabda;

Artinya: Apabila kalian marah dan dia dalam posisi berdiri hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang hendak dia mengambil posisi tidur (HR. Ahmad ).
d)    Selalu mengingat kepada hadis berikut;

Artinya: Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki (HR. Abu Daud dan Turmudzi).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar